Source: Solopos

Di perjalanan menuju tempat kerja hari ini aku berpikir, kenapa bilik suara di hari pemilu di buat tertutup. Selalu begitu dari dulu. Kenapa enggak di buat terbuka, toh biar lebih kerasa demokrasi nya gitu.. 
eh tunggu aku akhirnya sadar akan jawabannya, simpel sih. Dari dulu, setiap pemilu orang” di beri ruang keleluasaan pribadi agar bisa bebas memilih sesuai keyakinan hati tanpa harus takut akan menyinggung kerabat yang berbeda pilihan. Bilik suara di jaga kerahasiaannya untuk menghindari potensi adanya konflik yang bisa mengganggu keharmonisan antar kerabat (teman, keluarga, dll). 

But now, kita semua tiba di era digital. Dimana semua orang rela ditelanjangi, dengan senang hati menumpahkan pikirannya untuk di ketahui secara umum.

Kita tiba di era dimana orang” (termasuk aku) dengan senang hati memberi tahu siapa yg kita pilih. Tanpa berpikir panjang, tanpa mengira akan potensi munculnya konflik antar kerabat. Semua di hajar habis yang penting orang tahu siapa yg kita pilih, siapa yang kita bela.

Banyak seniman skrg juga gitu, rela mengorbankan pekerjaannya sebagai alat politik. Padahal sejatinya seniman adalah orang yang menghibur. Menghibur siapapun. Orang yang menghibur orang lain di atas segala kondisi.

Jadi masihkah bilik suara dengan konsep tertutup di perlukan hari ini ? Rasa”nya udah enggak ya?

Kecuali kita semua ingin bareng” menghentikan kebiasaan ini. Kebiasaan yang berpotensi merusak hubungan dengan kerabat. Kebiasaan yang berpotensi menciptakan aura negatif antar sesama. Kebiasaan membiarkan diri kita di telanjangi sosial media.

Terakhir, yuk kita inget” lagi azas pemilu yaitu: 

Jujur, Adil, Bebas, & RAHASIA.

Advertisements