Source: google image

Pemimpin idola-nya melakukan kesalahan, mereka bela. Mereka tidak terasa terhina hanya karena cinta gila. Mereka pikir wong sudah minta maaf kenapa harus terus di bahas?
Jadi tidak apa-apa melakukan satu kesalahan fatal asal urusan mereka tetap lancar. Mereka lupa mereka tidak hidup sendiri, masih banyak orang lain yang punya hati nurani. Yang tersakiti apabila yang mereka bela itu di caci maki dan juga di hina.

Mereka lupa jadi pemimpin itu memang susah, Harus arif dan bijaksana, kepada siapapun juga.

Sudah dijejali dengan pemandangan indah dan megah dengan aksi bersih dan damai kelas dunia. Mana ada protes yang berjalan seperti ini, tapi memang mereka bebal, terus saja di caci maki.

Cari terus, terus cari sampai ketemu, dari meja kerjamu, kamu lancarkan seranganmu.

Mereka pikir ini aksi bayaran, aksi ini belum damai kalau bukan hati merekalah yang sudah damai. Bikin macet, dan gerah. Itu hati apa tong sampah?

Presiden-pun datang dibilang permainan cantik, emang mereka saja yg bilang ini hanya sandiwara politik.

Sekarang gini deh. Kalo mau aman saja dan pembangunan terus berjalan, yang penting urusanmu gak terjamah, mending kamu tinggal di era pak toto. Aman sentosa namun diam-diam angker bagai kanker.

Mereka inilah kaum yang tidak peduli. Kaum hipokrit dan mau menang sendiri. Bilangnya banggakan demokrasi, namun hukum bebas berpendapat di perketat, mereka malah senang hati.

Mana ada asap kalau tidak ada api, siapa suruh meletakan api di bumbungan. Maaf ini urusan hati kau takkan mengerti. Silahkan cari post lain yang lebih empuk untuk di serang.

Advertisements